Pages

Subscribe:

Jumat, 13 Desember 2013

Compiere, Oracle, dan My SQL

Compiere adalah sebuah ERP dan merupakan solusi bisnis CRM sumber yang terbuka untukusaha kecil dan menengah dalam bidang distribusi dan jasa.

Bisnis partner dalam sebuah compiere adalah suatu entity yang melakukan bisnis dengan perusahaan.
Produk compiere adalah suatu yang dapat dijual atau dibeli.

Pembuatan di compiere tergantung pada model produk yang digunakan user. Sedangkan pencariaan di compiere dilakukan dengan mengetikan kata menu.

Oracle adalah Database relasional yang terdiri dari kumpulan data dari satu sistem manajemen bisnis data RDBMS yang multi-platform.

Revoke pada oracle  berfungsi untuk mencabut hak akses dari admin server kepada user.

Grant pada oracle berfungsi untuk memberikan hak akses kepada user untuk membuat, menghapus serta menambah kolom.

Contoh sederhana penggunaan revoke dan grant :
Revoke all on table (nama table) from (nama user);
Grant all on table (nama table) from (nama user);

MY SQL adalah perangkat lunak sistem manajemen basis data SQL atau DBMS yang multithread dan multi-user.

View pada oracle adalah sekumpulan object yang terdapat pada database

Join pada oracle adalah sebuah relasi yang terjadi antar tabel-tabel.

Syntax view pada oracle :
Create view myview
AS select empno employee_no, nama_nama, gaji_sal, job_pekerjaan
From emp
Where deptno=20;

Syntax join pada oracle :
Select alias1.nama_kolom,alias2.nama_kolom
From nama_table1alias1,nama_table2alias2

Where alias1.nama_kolom=alias2.nama_kolom;

Keamanan Komputer

Gangguan pada komputer :
  • Ø  Human error contohnya adalah salah format atau kesalah prosedur saat menjalankan komputer
  • Ø  Virus atau attack contohnya adalah ada sebuah program yang menyebabkan sistem pada komputertidak berjalan dengan semestinya.
  • Ø  Force nature contohnya adalah bencana gempa bumi, bencana banjir dan bencana gunung meletus.

Ada 8 kategori dari virus :
  • Ø  Boot sector
  • Ø  File infector
  • Ø  Macro viruses
  • Ø  Trojan
  • Ø  Worm
  • Ø  Rootkit
  • Ø  Malware
  • Ø  Browser redirect

Apakah firewall itu? Fire wall adalah perangkat yang memonitoring lalu lintas jaringan dan aktivitas sistem

Autentication merupakan metode untuk menyatakan bahwa informasi yang diberikan benar-benar asli atau orang yang mengakses atau memberikan informasi adalah benar-benar orang yang dimaksud.

Definisi malware adalah sebuah program yang menyusup atau bersembunyi kedalam sebuah sistem komputer atau software

Cara kerja malware yaitu dengan menyusup kedalam sistem komputer melalui jaringan komputer

File system protector terdiri dari :
  • Ø  NTFS : New Tech File System
  • Ø  FAT : Files Allocation Files




ERP (Enterprise Resource Planning)

ERP? Atau Enterprise resource planning adalah sistem informasi untuk perusahaan manufaktur maupun jasa untuk mengintegrasikan dan mengotomasikan proses bisnis.

Manfaat menggunakan ERP :
  • ·         Inetgrasi keungan
  • ·         Standarisasi proses operasi
  • ·         Standarisasi data dan informasi

Keuntungan yang dapat diukur :
  • ·         Penurunan inventori
  • ·         Peningkatan service level
  • ·         Peningkatan kontrol keuangan
  • ·         Penurunan tenaga kerja secara total

Penyebab gagalnya ERP :
  • ·         Waktu dan biaya implementasi yang melebihi anggaran
  • ·         Strategi operasi tidak sejalan dengan business proses design dan pengembangannya
  • ·         Pre-implementation tidak dilakukan dengan baik
  • ·         SDM tidak disiapkan untuk beroperasi dengan sistem yang baru

Ini tanda gagalnya sebuah ERP itu :
  • ·         Kurangnya komitmen top management
  • ·         Kurangnya sumber daya manusia
  • ·         Cacatnya proses seleksi software
  • ·         Kurangnya komunikasi
  • ·         Kurangnya training dan pembelajaran

Apa aja sih software ERP itu ?
  • ·         SAP
  • ·         JDE
  • ·         BAAN
  • ·         MFGPro
  • ·         Protean
  • ·         Compiere
  • ·         Adempiere

Modul-modul ERP :
  • ·         Modul operasi
  • ·         Modul finansial dan akunting
  • ·         Modul sumber daya manusia



Rabu, 04 Desember 2013

Contoh Kasus Telematika Pada Bidang Komunikasi

Serangan terhadap domain pribadi Presiden SBY oleh seorang hacker muda yang ditangkap dengan tuduhan melakukan defacing (penggantian halaman muka situs) terhadap domain www.presidensby.info sejatinya bisa dibilang cuma sebuah aksi tanpa perencanaan yang hanya bertujuan ‘mencari eksistensi jati diri’ di dunia cyber.

Hal ini terlihat dari pengakuan pelaku yang diberitakan oleh berbagai media. Akan tetapi di sisi lain, kasus ini membuka mata banyak pihak untuk melihat lebih lanjut tentang keberadaan situs yang diduga dengan mudah di-deface oleh sang pelaku.


Sisi pandang yang perlu dicermati dari kasus ini adalah, apakah situs www.presidensby.info tersebut adalah situs resmi dan bisa dikategorikan sebagai situs pemerintah yang sesuai dengan aturan yang dibuat oleh pemerintah itu sendiri.


Ini bisa dilihat dalam Peraturan Menteri Kominfo No. 28/PER/M.KOMINFO/9/2006 tentang Penggunaan Nama Domain go.id untuk Situs Web Resmi Pemerintahan Pusat dan Daerah pada BAB II Pasal 2 dan 3 yang berbunyi sebagai berikut:


Pasal 2


Nama domain go.id untuk situs web resmi lembaga pemerintahan pusat dan daerah hanya dapat didaftarkan dan atau dimiliki oleh lembaga pemerintahan pusat dan daerah.


Pasal 3


Nama domain go.id hanya digunakan untuk situs web resmi lembaga pemerintahan pusat dan daerah.


Lembaga pemerintahan pusat dan daerah yang menggunakan nama domain go.id sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pemilik nama domain go.id yang bersangkutan.



Dari kedua pasal tersebut dapat dijelaskan bahwa hanya domain go.id yang diakui sebagai web resmi pemerintahan, yang dalam hal ini dapat ditafsirkan bahwa Kepresidenan termasuk dalam kategori Pemerintahan pusat kecuali ada pendapat lain yang bisa membuktikan hal ini berbeda, maka perlu dikaji lebih dalam lagi akan hal tersebut.


Kembali pada kasus aksi deface yang dilakukan oleh pemuda berinisial 'W' asal jember ini yang dalam dugaan saya memanfaatkan celah pada pengelolaan domain yang dimiliki oleh www.presidensby.info, yang informasinya bisa diambil dari berbagai situs whois domain di internet dan didapati bahwa domain tersebut dikelola oleh pihak ketiga di luar dari pengelola situs tersebut.


Bahasa teknis DNS Poisoning yang biasa digunakan dalam tehnik ini, sejatinya sudah bukan barang baru. Tetapi kembali lagi bahwa celah keamanan pada sistem ini di-handle oleh pihak pengelola domain yang 'disewa' oleh pembuat situs.


Pihak Kepolisian yang cepat dalam bergerak juga di sisi lain wajib mendapat penghargaan dengan segala SDM yang sudah mampu melakukan tracking dengan cepat.


Tetapi tetap perlu dikritisi untuk lebih jeli melihat karakter dunia cyber yang tentunya mempunyai karakter khusus. Karena mereka pastinya tidak bisa menyatakan arogansi dalam kasus ini karena implikasinya akan membangkitkan keusilan lain yang dapat berakibat fatal bagi berbagai pihak yang dirugikan.


Jika melihat pernyataan dari berbagai pihak baik dari konsultan IT hingga para pakar yang mengatakan bahwa situs tersebut tidak di-deface ataupun di-hack, tentunya para pihak yang berwajib harus bisa secara jelas membuktikan bahwa memang situs tersebut memang mempunyai log atau bukti yang jelas, bahwa niat pelaku memang ingin melakukan hacking terhadap situs tersebut atau sekedar aksi 'force brute' untuk sistem di third party sebagaimana disebutkan di atas.



Sumber : http://cybermanlink.blogspot.com/2013/11/contoh-kasus-telematika-pada-bidang.html


Kamis, 28 November 2013

CIGIT 2013 Part 1


Pada tanggal 19-23 november 2013 akan di adakan kompetisi futsal yang di adakan oleh cigit penyelenggaraan tahun ini adalah penyelenggaraan yang ke 3. Gua sekarang udah tingkat 4 masa ga pernah ikut cigit sih selama kuliah di Universitas gunadarma, maka dri itu gua dan 4 orang di kelas berencana ikut cigit dan membuat sebuah tim. Pertama tama anggota tim gua Cuma 5 orang yaitu gua Muhammad Fajri, Nur Hari Sukoco, Rian Wahyudi dan Foggy Anggara,dan yang satu lagi temen kosan gua namanya Satrio Tri Atmojo biasa di panggil mojo. Si mojo ga sama jurusannya sama gua dan ke 3 temen gua yang lain kalo gua dari jurusan SI kalo si mojo dari MI. Tapi si mojo ini juga punya timnamanya afika yang mau ikut cigit juga, jadi dia ikut di 2 tim. Nah langsung deh gua sama tim gua yang  lain mencari 5 pemain lagi untuk memenuhi kuota 10 pemain. Singkat cerita temen gua koco ngajak temennya namanya prasetyo utomo anak akuntansi. Dan dia juga ngajak temen sekelasnya namanya ivan jadi baru kekumpul 7 orang tapi di akhir-akhir mau daftar koco ngajak temennya juga namanya reza dari ka 06 zanki dari ka 02 dan temen sekelas gua ngasih kepastian bisa ikut namanya alex jadi sudah terkumpul tuh kuota 10pemain. Dan jhosi sebagai official tim kami. Oh iya nama tim gua adalah GURIH FC hahaha. Karena gua sering nonton film bang ocid yang kocak dengan kata-kata gurih gurih enyoynya itu maka gua kasih nama tim gua Gurih FC. Pendaftaran cigit RP.400.000. dan inilah 10 orang pemain dari tim GURIH FC :
  • Kiper : Nur Hari Sukoco (29)
  • Foggy Anggara (17)
  • Rian Wahyudi (10)
  • Alex Sandy (92)
  • Muhammad Fajri (7)
  • Satrio Tro Atmojo (22)
  • Imadin Zanki (99)
  • Prasetyo Utomo (24)
  • Ivan Sebastian (18)
  • Muhammad Reza (6)
  • Jhosi Sofian Nugroho (Official)


Senin, 04 November 2013

TUGAS 1


  • DEFINISI TELEMATIKA

Istilah telematika merupakan adopsi dari bahasa asing. Kata telematika berasal dari kata dalam bahasa Prancis, yaitu telematique. Istilah ini pertama kali digunakan pada tahun 1978 oleh Simon Nora dan Alain Minc dalam bukunya yang berjudul L’informatisation de la Societe. Para praktisi mengatakan bahwa TELEMATICS merupakan perpaduan dari dua kata yaitu dari“TELECOMMUNICATION and INFORMATICS” yang merupakan perpaduan konsep Computing and Communication. Istilah telematika juga dikenal sebagai “the new hybrid technology” karena lahir dari perkembangan teknologi digital. Sedangkan menurut Kerangka Kebijakan Pengembangan dan Pendayagunaan Telematika menunjuk pada hakikat cyberspace sebagai suatu sistem elektronik yang lahir dari perkembangan dan konvergensi telekominikasi, media, dan informatika Telematika di Indonesia, disebutkan bahwa teknologi telematika merupakan singkatan dari teknologi komunikasi, media, dan informatika. Senada dengan pendapat pemerintah, telematika diartikan sebagai singkatan dari tele = telekomunikasi, ma = multimedia, dan tika = informatika.
Dari definisi di atas maka telematika dapat mencakup berbagai komponen dan secara garis besar tidak berbeda jauh maknanya dengan istilah Teknologi Informasi (TI), maupun Information and Communication Technologies (ICT).


  • Perkembangan Telematika Di Indonesia

Peristiwa proklamasi 1945 membawa perubahan yang bagi masyarakat Indonesia, dan sekaligus menempatkannya pada situasi krisis jati diri. Krisis ini terjadi karena Indonesia sebagai sebuah negara belum memiliki perangkat sosial, hukum, dan tradisi yang mapan. Situasi itu menjadi ‘bahan bakar’ bagi upaya-upaya pembangunan karakter bangsa di tahun 50-an dan 60-an. Di awal 70-an, ketika kepemimpinan soeharto, orientasi pembangunan bangsa digeser ke arah ekonomi, sementara proses – proses yang dirintis sejak tahun 50-an belum mencapai tingkat kematangan.

Dalam latar belakang sosial demikianlah telekomunikasi dan informasi, mulai dari radio, telegrap, dan telepon, televise, satelit telekomunikasi, hingga ke internet dan perangkat multimedia tampil dan berkembang di Indonesia. Perkembangan telematika penulis bagi menjadi 2 masa yaitu masa sebelum atau pra satelit dan masa satelit.

1. Masa Pra-Satelit

Radio dan Telepon

Di periode pra satelit (sebelum tahun 1976), perkembangan teknologi komunikasi di Indonesia masih terbatas pada bidang telepon dan radio. Radio Republik Indonesia (RRI) lahir dengan di dorong oleh kebutuhan yang mendesak akan adanya alat perjuangan di masa revolusi kemerdekaan tahun 1945, dengan menggunakan perangkat keras seadanya. Dalam situasi demikian ini para pendiri RRI melangsungkan pertemuan pada tanggal 11 September 1945 untuk merumuskan jati diri keberadaan RRI sebagai sarana komunikasi antara pemerintah dengan rakyat, dan antara rakyat dengan rakyat.

Sedangkan telepon pada masa itu tidak terlalu penting sehingga anggaran pemerintah untuk membangun telekomunikasipun masih kecil jumlahnya. Saat itu, telepon dikelola oleh PTT (Perusahaan Telepon dan Telegrap) saja. Sampai pergantian rezim dari Orla ke Orba di tahun 1965, RRI merupakan operator tunggal siaran radio di Indonesia. Setelah itu bermunculan radio – radio siaran swasta. Lima tahun kemudian muncul PP NO. 55 tahun 1970 yang mengatur tentang radio siaran non pemerintah.

Periode awal tahun 1960-an merupakan masa suram bagi pertelekomunikasian Indonesia, para ahli teknologi masih menggeluti teknologi sederhana dan “kuno”. Misalnya saja, PTT masih menggunakan sentral-sentral telepon yang manual, teknik radio High Frequency ataupun saluran kawat terbuka (Open Were Lines). Pada masa itu, banyak negara pemberi dana untuk Indonesia – termasuk pendana untuk pengembangan telekomunikasi, menghentikan bantuannya. Hal itu karena semakin memburuknya situasi dan kondisi ekonomi dan politi di Indonesia.

Tercatat bahwa pada masa 1960-1967, hanya Jerman saja yang masih bersikap setia dan menaruh perhatian besar pada bidang telekomunikasi Indonesia, dan menyediakan dana walau di masa-masa sulit sekalipun. Ketika itu pengembangan telekomunikasi masih difokuskan pada pengadaan sentra telepon, baik untuk komunikasi lokal maupun jarak jauh, dan jaringan kabel. Indonesia saat itu belum memiliki satelit. Sentral telepon beserta perlengkapan hubungan jarak jauh ini diperoleh dari Jerman. Pada saat itu, Indonesia hanya dapat membeli produk yang sama, dari perusahaan yang sama, yakni Perusahaan Jerman. Tidak ada pilihan lain bagi Indonesia.

Keleluasaan barulah bisa dirasakan setelah di tahun 1967/1968 mengalir pinjaman-pinjaman ke Indonesia, baik bilateral ataupun pinjaman multilateral dari Bank Dunia, melalui pinjaman yang disepakati IGGI. Akan tetapi, pada masa inipun inovasi dalam pemfungsian teknologi telekomunikasi masih belum berkembang dengan baik di negeri ini. Peda dasarnya kita memberi dan memakai perlengkapan seperti switches, cables, carries yang sudah lazim kita pakai sebelumnya.

Televisi

Badan penyiaran televisi lahir tahun 1962 sebelum adanya satelit yang semula hanya dimaksudkan sebagai perlengkapan bagi penyelenggara Asian Games IV di Jakarta. Siaran percobaan pertama kali terjadi pada 17 Agustus 1962 yang menyiarkan upacara peringatan kemerdekaan RI dari Istana Merdeka melalui microwave. Dan pada tanggal 24 Agustus 1962, TVRI bisa menyiarkan upacara pembukaan Asian Games, dan tanggal itu dinyatakan sebagai hari jadi TVRI.

Terdorong oleh inovasi, akhirnya pada tanggal 14 November 1962 untuk pertama kalinya TVRI memberanikan diri melakukan siaran langsung dari studio yang berukuran 9x11 meter dan tanpa akustik yang memadai. Acaranya terbatas, hanya berupa permainan piano tunggal oleh B.J. Supriadi dengan pengaruh acara Alex Leo.

Lebih setahun setelah siaran pertama, barulah keberadaan TVRI dijelaskan dengan pembentukan Yayasan TVRI melalui Keppres No. 215/1963 tertanggal 20 oktober 1963. Antara lain disebutkan bahwa TVRI menjadi alat hubungan masyarakat (mass communication media) dalam pembangunan mental/spiritual dan fisik daripada Bangsa dan Negara Indonesia serta pembentukan manusia sosialis Indonesia pada khususnya.

Sampai tahun 1989, TVRI merupakan operator tunggal di bidang penyiaran televise.
Jadi sebelum satelit palapa mengorbit, Indonesia hanya mengenal telekomunikasi yang bersifat terestrial, yakni yang jangkauannya masih dibatasi oleh lautan. Telekomunikasi seperti ini tidak bisa menjangkau pulau-pulau kecuali melalui penggunaan SKKL (Saluran Komunikasi Kabel Laut) yang mahal dan sulit dipergunakan.

2. Masa Satelit

Satelit Domestik Palapa

Gagasan tentang peluncuran satelit bagi telekomunikasi domestik di Indonesia bisa ditelusuri asal muasalnya dari sebuah konferensi di Janewa tahun 1971 yang disebut WARCST (World Administrative Radio Confrence on Space Telecomunication).

Pada konferensi itu di tampilkan pila pameran dari perusahaan raksasa pesawat terbang Hughes. Perusahaan inilah yang mengusulkan ide pemanfaatan satelit bagi kepentingan domestik Indonesia. Hal tersebut disambut oleh Suhardjono yang berlatar belakang militer dan membawa masalah satelit itu sampai ke Presiden RI.

Selain pertimbangan kelayakan ekonomi dan teknis, sejarah peluncuran satelit ini juga diwarnai oleh kepentingan politik dimana hubungan antara Indonesia dengan negara- negara lain sudah mulai bersahabat. Di sisi lain, satelit memungkinkan penyebaran luas ideologi negara ke masyarakat luas melalui TV, satelit juga menguntungkan secara ekonomi.

Komunikasi tentang cara-cara menggali sumber daya alam dapat berlangsung dengan mudah. Ini berlaku untuk kasus tembaga pura (Freeport) dan di Dili. Peluncuran satelit Palapa di Cape Canaveral, Florida, bulan Agustus 1976 pada panel peluncuran terdapat 3 orang Indonesia dan perwakilan dari perusahaan NASA dan Hughes.

Kejadian ini diresmikan juga melalui pidato kenegaraan oleh presiden Soeharto di Jakarta, tanggal 16 Agustus 1976. ini merupakan satu- satunya proyek teknologi yang mendapat tempat terhormat di gedung Parlemen. Namun peluncuran satelit itu merupakan kebijakan nasional yang gagasan awalnya dicetuskan oleh pemerintah.

Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa Indonesia pernah mengalami ancaman perpecahan. Untuk mempersatukan tanah air yang sangat luas ini diperlukan sarana perhubungan yang mencakup seluruh wilayah nusantara. Proses kelahiran satelit ini hanya melibatkan sedikit teknokrat dan teknolog yang berpihak pada kepentingan Orba.

Dampak Setelah Adanya Satelit Palapa

Dengan semakin bergantungnya Indonesia pada teknologi satelit, muncullah sejumlah perusahaan yang bergerak dalam produksi perlengkapan terkait, seperti RFC (milik Iskandar Alisjahbana), LEN (milik Kayatmo), PT. INTI. Setelah periode itu, aspek bisnis di dunia telekomunikasi mencuat. Inovasi lebih banyak terjadi pada penyediaan layanan, sementara pengembangan teknologi untuk komponen berkurang.

Pertumbuhan ekonomi yang pesat di tahun 1988 membuat kebutuhan telekomunikasi melonjak secara drastis. Untuk memenuhi kebutuhan telepon yang melonjak, disadari pemerintah perlunya perubahan regulasi, yang kemudian membuahkan UU no. 3 tahun 1989 tentang pengertian telekomunikasi yang diperluas hingga mencakup alat pengiriman data seperti facsimile dan telex, dan lain-lainnya.

Sebelum lahirnya UU ini, Telkom dan Indosat disebut sebagai badan penyelenggara telekomunikasi yang menyediakan seluruh jejaring dan layanan jasa. Dampak positif dari berlakunya UU tersebut adalah mulai masuknya pihak-pihak swasta dengan modal yang besar, walaupun dalam skala usaha yang terbatas.

Mereka datang dengan membawa teknologi baru, tenaga ahli, manajemen yang baru. Ini semua kemudian menciptakan iklim usaha yang baru dalam penyelenggaraan telekomunikasi di Indonesia. Dengan terlibatnya pihak asing dalam pengadaan dana, teknologi dan menejemen, perkembangan teknologi telekomunikasi berkembang dengan pesat. Hal ini terjadi sekitar tahun 1990-an dan dampaknya terlihat mulai tahun 1991 khususnya terlihat jelas bahwa jangkauan telekomunikasi di Indonesia menjadi bertambah luas.

Perkembangan teknologipun berkembang pesat, mulai dari pesawat telepon manual ke otomatis, dan dari analog menjadi digital. Pada gilirannya perkembangan ini menuntut adanya pengaturan infrastruktur dan standarisasi peralatan. Tak lama kemudian masuklah teknologi mobile-telecommunication.

Berkembanglah pemakaian handphone yang bardampak tumbuhnya usaha-usaha yang tidak hanya menyediakan layanan atau jejaring saja, melainkan juga membangun pabrik-pabrik dalam upaya pemenuhan kebutuhan akan kabel. Menarik untuk dicatat bahwa di era serbuan bisnis telekomunikasi itu, ternyata kaidah dan aturan bisnis professional tidak sepenuhnya diikuti.

Sementara itu faktor politik tampaknya justru mengambil peranan penting. Kala itu terjadi campur tangan bisnis dari “Keluarga Cendana” yang mengambil peranan sebagai mitra bisnis PT Telkom dan Indosat yang kemudian diikuti oleh krono-kroni mereka seperti Liem Sio Liong melalui “Sinar Mas”- nya dan lain-lain. Di era emas telekomunikasi itu, tumbuh dorongan kuat agar Bank Indonesia membuka pintunya lebar-lebar bagi pihak swasta asing.

Bahkan mereka menginginkan adanya privatisasi Telkom dan Indosat dalam penyelenggaraannya. Dampak dari dorongan ini mencuatnya pandangan bahwa regulasi yang ada sudah tidak memadai lagi. Di sekitar tahun 1996, mulailah disusun rencana untuk meninjau kembali UU No. 3 tahun 1989.

Beberapa hal yang diperhatikan dalam review ini adalah :

1. Perkembangan teknologi tahun 1995-1996 itu berbeda sekali dengan di tahun 1990. ini terutama terjadi akibat konvergensi teknologi, sebagai fungsi dari berbagai jenis jasa berubah dan timbul jasa-jasa baru yang perlu diakomodasikan. Konvergensi teknologi bahkan memungkinkan teknologi dipadu dengan broadcasting, sehingga timbullah telematika, teleinformatika, teknologi informasi dan lain-lain yang menuntut kebijakan dan peraturan yang baru.

2. Perkembangan teknologi informasi dan broadcasting itu ternyata tidak hanya berpengaruh pada masalah politik, dalam artian berita, tetapi juga iklan yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. Lebih jauh lagi dengan berkembangannya telebanking, telekumunikasi sebelumnya dilihat hanya sebagai public utility, kini berubah menjad bisnis opportunity.

3. Globalisasi ekonomi menciptakan suasana kompetisi yang semakin ketat. Ini menuntut penyelenggaraan telekomunikasi dengan kualitas layanan yang semakin tinggi.
Setelah satelit Palapa mengorbit, jangkauan telekomunikasi Indonesia bisa meliputi seluruh nusantara, dan bahkan ke luar wilayah nusantara. Satelit telekomunikas itu kemudian bisa dimanfaatkan bukan untuk telepon tetapi juga untuk berbagai macam keperluan lain seperti, pengiriman facsimile, telex, dan pengiriman berbagai informasi dalam bentuk lain termasuk broadcasting. Setelah perkembangan itu semua terwujud, masyarakat melihat pentingnya peranan telekomunikasi bagi kehidupan suatu bangsa.


  • Trend ke depan telematika

Telekomunikasi dan Informatika saat ini sudah berkembang pesat. Sangat sulit sekarang menemukan orang yang tidak memiliki handphone ataupun account Facebook. Konvergensi antara dua bidang Telekomunikasi dan Informatika melahirkan suatu tren baru, dimana orang bisa dengan mudah mendapatkan email dan mengupdate statusnya melalui handphone. Penggunaan IP Phone pun sudah mulai marak. Tetapi perkembangan itu bukan saja melahirkan efek positif, tetapi terdapat pula efek negatifnya. Maka kita harus mengetahui trend, kedepan Telematika untuk dapat mengantisipasinya..

Menurut saya, perkembangan pertahunnya sangat pesat dalam bidang ini. Contoh simplenya adalah storage tempat penyimpanan data seperti halnya flashdisk yang kini bisa menyimpan ratusan Giga byte, hardisk yang mencapai kapasitas terra byte, dan lainnya yang dulu masih sangat berukuran kecil. Kini barang seperti itu semua sangat mudah di dapatkan dengan harga yang sesuai. 

Trend ke depannya dalam Telematika menurut saya ini bisa bersifat pada model dan kecepatan transmisi data yang diperoleh, serta seberapa tinggi cost untuk mendapatkan jaringan hingga akhirnya free cost.. hahaa 

Yang pertama model, sekarang Laptop atau mini computer masih berbentuk persegi panjang kotak. Mungkin ke depannya mini computer ini bisa berbentuk bulat, hati, atau sebagainya dengan tampilan yang menarik serta warna yang atraktif.

Ke-dua yaitu kecepatan dalam mentransmisi data, semua brand saling mengungguli agar para konsumen memilihnya karena kecepatan akses internet yang luar biasa, itu bisa kita temukan dalam iklan televisi sehari-hari. Tapi bagaimana jika cuaca buruk dan kita di tuntut untuk mengakses dan mengirim data secara cepat. Masih banyak brand yang kecepatan sangat turun drastic ketika cuaca tidak mendukung. Nah kemungkinan masalah itu yang akan diperhitungkan ke depannya.

Ke-tiga yaitu biaya untuk mendapatkan akses jaringan internet tersebut. Hmmm.. Di mall-mall sudah sering ditemukan hotspot serta wifi gratis tapi connectivitas networknya sering kali sangat buruk, terkadang kita pun harus membayar terlebih dahulu agar dapat menikmati layanan yang tersedia tersebut. Nah bagaimana mereka yang menyediakan layanan tersebut menekan harga pada pengguna hotspot atau bahkan mem-free kan jaringan tersebut dengan connectivitas yang sangat baik. Itupun akan jadi salah satu trend ke depan, sehinnga kita sebagai mahasiswa tidak diberatkan untuk membayar tinggi harga bulanan sebuah internet, atau bahkan menikmati akses internet dengan nyaman..


SUMBER : http://johandwisatrio.blogspot.com/2013/01/perkembangan-telematika.html
                  http://rafika-afriyani.blogspot.com/2010/10/trend-ke-depan-telematika.html
                  http://aditpato7.wordpress.com/2011/10/11/definisi-telematika/

Jumat, 31 Mei 2013

Cara Membuat Rujukan

PENGGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI BERDASARKAN ASPEK PERILAKU

Pesatnya perkembangan dan penggunaan teknologi informasi telah mengundang banyak peneliti untuk melakukan penelitian dibidang ini, karena penelitian dibidang TI setidaknya menyediakan 3 bahasan utama yang dapat dijadikan topik penelitian yaitu (a) perangkat keras (hardware), (b) perangkat lunak (software) dan (3) pengguna TI (user). Penelitian yang menitik beratkan pada  bagian pengguna (user) teknologi informasi banyak didasarkan pada aspek-aspek keprilakuan.  Pembahasan aspek keprilakuan secara teoritis didasari oleh teori-teori psikologis dan sosiologis, yang banyak menjelaskan tentang persepsi (perceived), sikap (attituted), kepercayaan (belief).  Model TAM yang diuraikan dalam makalah ini memberikan gambaran pada aspek keprilakuan pengguna PC yang juga didasarkan pada teori psikologis, dimana banyak pengguna PC dapat dengan mudah menerima TI jika memiliki karakteristik sesuai dengan apa yang diinginkannya. Secara teoritis, pengadopsian teori-teori keprilakuan dalam studi-studi TI memberikan akselerasi kajian dibidang TI sehingga inovasi-inovasi pengembangan TI dan sistim informasi mengarah pada kebutuhan pengguna (user) dengan kemudahan penggunaannya. Dengan demikian secara teoritis dapat diuraikan bahwa implikasi penerapan TI adalah pada aspek keprilakuan yang berkaitan dengan pengembangan TI. Implikasi ini didasari pada argumentasi bahwa interaksi antara ketiga unsur dalam pengembangan TI tidak dapat dihindari, yaitu interaksi antara perangkat keras, perangkat lunak dan pengguna, artinya aspek prilaku itu memang penting untuk diperhatikan.

Menurut Bodnar dan Hopwood (1995) ada tiga hal yang berkaitan dengan penerapan TI berbasis komputer yaitu ; (a) Perangkat keras (hardware); (b) Perangkat lunak (software), dan; (c) Pengguna (brainware). Ketiganya elemen tersebut saling berinteraksi dan dihubungkan dengan suatu perangkat masukan keluaran (input-output media), yang  sesuai dengan fungsinya masing-masing.

Menurut Syam (1999), pertimbangan perilaku ini perlu mendapat perhatian khusus dalam konteks penerapan TI. Pendapat ini sejalan dengan Sung (1987) dalam Trisna (1998) yang menyatakan bahwa faktor-faktor teknis, prilaku, situasi dan personil pengguna TI perlu dipertimbangkan sebelum TI diimplementasikan.

Iqbaria (1994), Nelson (1996), Luthans (1995) juga menyebutkan bahwa secara individu maupun kolektif penerimaan penggunaan dapat dijelaskan dari variasi penggunaan suatu sistem, karena diyakini penggunaan suatu sistem yang berbasis TI dapat mengembangkan kinerja individu atau kinerja organisasi.

Davis.F.D (1989); Adam.et.al (1992) mendefinisikan kemanfaatan (usefulness) sebagai suatu tingkatan dimana seseorang percaya bahwa penggunaan suatu subyek tertentu akan dapat meningkatkan prestasi kerja orang tersebut. Berdasarkan definisi tersebut dapat diartikan bahwa kemanfaatan dari penggunaan komputer dapat meningkatkan kinerja, prestasi kerja orang yang menggunakannya.

Daftar Pustaka

Bodnar H George and Hopwood S.1995. William. Accounting Information System, edisi bahasa Indonesia, oleh Amir Abadi Jusuf dan Rudi M Tambunan, buku satu edisi keenam, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.  

Syam Fazli BZ.1999. “ Dampak Kompleksitas Teknologi informasi bagi strategi dan kelangsungan usaha”, Jurnal Akuntansi dan Auditing (JAAI) Vol.3 no.1, FE. UII Yogyakarta 

Igbaria M,.1994. “An Examination of the factors contributing to Micro Computer techenology acceptance ”. Journal of Information system,Elsiever Science, USA  

Davis FD.1989.“ Perceived Usefullness, Perceived ease of use of Information Technology ”. Management Information System Quarterly, USA